Sabtu, 27 Desember 2025

Legitimasi dalam Sekeping Koin : Hasil kajian Mata Uang Kesultanan Banten tahun 2023 oleh Siti Rohani, S.Hum

 Pendahuluan

Pada masa kejayaannya, Kesultanan Banten berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan maritim terpenting di Nusantara. Wibisono (2013) mencatat bahwa wilayah ini dikenal para pelaut dan pedagang asing sebagai Tanah di Bawah Angin. Pelabuhan Banten Lama pun selalu ramai disinggahi pedagang dari Asia, Timur Tengah, hingga Eropa yang datang mencari komoditas bernilai tinggi, terutama lada. Keramaian ini menjadikan Banten tempat bertemunya berbagai bangsa—dari Cina, Jepang, Gujarat, Persia, Inggris, hingga Belanda—dan menjadikannya simpul penting dalam jaringan ekonomi regional pada abad ke-16 dan ke-17.

Perdagangan jarak jauh dan hilir-mudik kapal membuat Banten hidup sebagai pusat ekonomi yang dinamis. Aktivitas perniagaan berlangsung dari lumbung lada di pedalaman hingga gudang pabean di pesisir. Di sepanjang Sungai Cibanten, di pasar kota, maupun di ruang perniagaan istana, berbagai bentuk pertukaran terjadi setiap hari. Dalam arus perdagangan yang begitu ramai, sekeping koin logam berperan penting sebagai alat tukar yang membuat transaksi lebih tertib, praktis, dan efisien.

Meski tampak kecil dan sederhana, koin Banten menyimpan makna yang jauh lebih besar. Di dalamnya tercermin simbol kekuasaan sultan, pengakuan dari para pedagang asing, serta identitas budaya sebuah kerajaan yang pernah berperan besar dalam perdagangan global. Hak mencetak uang bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga penegasan bahwa Kesultanan Banten mampu mengatur wilayahnya, mengelola perdagangan, dan menunjukkan dirinya sebagai negara berdaulat di dunia maritim pada masanya.

Tulisan ini mengajak pembaca memahami bagaimana sekeping koin—khususnya koin timah Banten—tidak hanya berfungsi sebagai alat tukar, tetapi juga menjadi penanda identitas politik dan ekonomi sebuah kerajaan. Dengan menelusuri bentuk, fungsi, dan makna simboliknya, kita dapat melihat bahwa koin tidak sekadar alat jual beli. Keberadaannya justru menandai legitimasi kekuasaan dan menggambarkan hubungan Banten dengan jaringan perdagangan yang pernah menjadikannya salah satu pusat kemakmuran di Nusantara.


Banten, Rempah, dan Kebutuhan Uang

Kebangkitan Banten sebagai pusat ekonomi dimulai setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511. Para pedagang mencari pelabuhan baru yang aman dan tetap terhubung dengan jalur rempah, dan Banten—yang berada di pintu masuk Selat Sunda—menjadi pilihan utama. Lada berkualitas dari pedalaman dan wilayah Lampung mengalir ke pasar internasional, membuat Banten berkembang dari kerajaan pedalaman menjadi kota pelabuhan yang ramai oleh pedagang Asia hingga Eropa.

Meluasnya perdagangan membuat sultan perlu mengatur aliran barang, orang, dan nilai. Produksi lada dikendalikan lewat pajak dan bea pelabuhan, sehingga aktivitas ekonomi yang semakin besar juga meningkatkan kebutuhan akan alat tukar yang seragam. Beragamnya mata uang yang dibawa pedagang—dari koin Cina hingga dinar dan dirham—mendorong Banten mencetak uangnya sendiri. Koin Banten pun menjadi alat tukar praktis sekaligus tanda bahwa kesultanan memiliki kekuasaan untuk mengatur perdagangan di wilayahnya.


Bentuk Fisik dan Teknik Pembuatan

Koin-koin yang pernah beredar di Kesultanan Banten memiliki penampilan yang sangat khas. Bentuknya kecil dan bulat pipih, dengan sebuah lubang di bagian tengah. Lubang ini bukan sekadar hiasan—melainkan dibuat agar koin dapat diikat dalam rangkaian, sehingga lebih mudah dibawa dan dihitung, mirip seperti orang membawa uang receh dalam untaian tali. Pada permukaannya, koin Banten biasanya menampilkan tulisan Arab yang disusun melingkar atau memenuhi seluruh bidang koin. Meskipun ukurannya kecil, guratan hurufnya dibuat cukup seragam sehingga tetap jelas terbaca. Beberapa koin bahkan menggunakan aksara Jawa pada sisi depan, menunjukkan keragaman budaya dan sistem administrasi pada masa itu. Warna dan kilau koin-koin ini juga bervariasi. Hal tersebut terjadi karena pembuatannya menggunakan logam yang berbeda, terutama tembaga dan timah. 


Koleksi Koin Banten Berinskripsi huruf Jawa milik Museum Bank Indonesia.

Dokumentasi BPK Wil. VIII

Koleksi koin Banten yang tersimpan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama (MSKBL) berukuran sekitar 19–24 milimeter dengan berat 2,1–3,1 gram. Banyak diantaranya dibuat dari timah hitam, sehingga tampak tipis dan kadang bentuknya tidak sepenuhnya simetris. Ketidaksempurnaan itu justru menjadi bukti proses pembuatan yang sederhana, namun tetap fungsional untuk kegiatan ekonomi masyarakat Banten pada masanya. Pemilihan bahan mengikuti kebutuhan praktis serta ketersediaan logam pada waktu itu.


91 (1)

92 (5)

93 (1)

Koleksi Koin Banten MSKBL.

Dokumentasi BPK Wil. VIII

Menurut Gumilar (2025) proses pembuatan koin memperlihatkan perpaduan keterampilan logam tradisional dan upaya standarisasi nilai tukar. Logam dilelehkan lalu dicetak menjadi kepingan tipis sebelum dilubangi dan dibiarkan mengeras. Setelah itu, pengrajin memahat atau menekan cetakan bertuliskan khat Arab ke permukaan koin untuk menampilkan nama penguasa atau identitas Banten sebagai kerajaan Islam. Ketelitian dalam tahap ini penting untuk menghasilkan koin yang relatif seragam dalam ukuran, bentuk, dan inskripsi, sehingga mudah dikenali dan dipercaya dalam kegiatan perdagangan harian. Walaupun tekniknya sederhana, produksi koin Banten mampu memenuhi kebutuhan transaksi yang berkembang di pelabuhan dan pasar lokal.

Jika dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan Asia Tenggara, koin Banten menempati posisi unik. Koin Tiongkok memiliki lubang persegi dan mengikuti standar tertentu, sementara koin VOC serta mata uang Eropa dibuat dengan teknologi lebih presisi. Koin Banten, sebaliknya, dibuat secara manual melalui pengecoran atau penekanan sederhana sehingga menghasilkan variasi bentuk dan ketebalan yang cukup beragam. Namun kesederhanaan ini justru menunjukkan bahwa produksi uang di Banten bersifat lokal, terjangkau, dan fungsional. Koin tersebut tidak meniru sepenuhnya standar luar, tetapi cukup efektif untuk menggerakkan ekonomi rakyat dan menegaskan keberadaan otoritas kesultanan dalam ruang niaga Nusantara.


Gaya Tulisan dan Pesan Politik 

Gaya tulisan Arab pada koin-koin Kesultanan Banten bukan sekadar hiasan, tetapi menjadi cara sultan menunjukkan bahwa kekuasaannya sah dan layak diikuti. Nama penguasa, gelar keagamaan, dan pilihan aksara yang dekat dengan tradisi Islam mempertemukan dua sumber legitimasi yang dijelaskan Max Weber, yaitu legitimasi tradisional yang bertumpu pada garis keturunan dan adat kerajaan, serta legitimasi karismatik yang bersandar pada wibawa religius sultan di mata rakyat. Melalui kombinasi keduanya, wajah politik Banten tampil dalam bentuk yang konkret dan sehari-hari: rangkaian huruf Arab pada sekeping logam kecil yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Koin pada masa lalu bekerja seperti papan reklame mini yang terus berpindah tangan tanpa perlu dikawal prajurit. Setiap kali orang menggunakan picis untuk berbelanja, mereka otomatis melihat nama sultan dan simbol keislaman yang tertera di permukaannya. Para penguasa memang sengaja menempatkan lambang dan tulisan tertentu pada uang untuk menegaskan jati diri serta menyebarkan pesan politik secara halus. Di Banten, cara ini membuat legitimasi sultan hadir bukan hanya di istana atau mimbar, tetapi juga di pasar dan pelabuhan—tempat masyarakat beraktivitas setiap hari.

Bentuk huruf, kerapian goresan, hingga variasi gaya kaligrafi dari satu masa pemerintahan ke masa berikutnya menunjukkan bahwa legitimasi itu terus dinegosiasikan dan diperbarui. Ada koin dengan tulisan yang jelas dan seimbang, ada pula yang tampak kasar karena dicetak dengan teknik manual, tetapi semuanya tetap memuat pesan yang sama: ada penguasa yang diakui dan hadir dalam keseharian warganya. Bagi peneliti masa kini, perubahan-perubahan kecil pada inskripsi itu menjadi petunjuk untuk membaca dinamika politik, pergantian sultan, dan upaya Banten menjaga wibawa di tengah persaingan dagang regional. Bagi masyarakat pada masanya, ia cukup terbaca sebagai jaminan bahwa sekeping picis yang digenggam adalah bagian dari tatanan kekuasaan yang sah.


Jenis Koin Banten

Penelitian sejarah menunjukkan bahwa para sultan Banten sudah mencetak mata uang mereka sendiri sejak masa awal berdirinya kesultanan. Dari Maulana Hasanuddin hingga para sultan abad ke-18, setiap koin yang diterbitkan mencerminkan ciri politik dan identitas penguasa pada masanya. Gumilar (2025) mencatat bahwa variasi tulisan dan bentuk koin menjadi bukti adanya tradisi pencetakan uang yang terus berlanjut serta menjadi cara para sultan menekankan kekuasaannya melalui benda logam kecil ini.

Berdasarkan hasil penelusuran Dr. Saparudin Barus (2023) yang disampaikan dalam forum Diskusi Kelompok Terpumpun Kajian Mata Uang Kesultanan Banten tahun 2023 di Kota Serang, Banten, menyebutkan bahwa beberapa Raja Banten yang menerbitkan Mata Uang Kesultanan Banten antara lain :

No.

Nama Raja Kesultanan Banten

Gambar Mata Uang Kesultanan Banten

Keterangan

1.

Maulana Hasanuddin (1552-1570)


  • Raja pertama Kesultanan Banten

  • Raja yang membuat tiga lembaga penting di Kerajaan Banten antara lain Pusat Ibadah (Masjid), Pusat Pemerintahan (Keraton Surosowan), dan Pusat Ekonomi (Pelabuhan Karangantu)

2.

Maulana Yusuf (1570-1580)

  • Raja kedua Banten bergelar ‘Panembahan Pakalangan Gede’ karena mendirikan Pusat Pendidikan beragama Islam di Pakalangan Gede.

  • Raja yang memimpin penyerangan ke Kerajaan Sunda Padjajaran tahun 1579 dan berhasil menaklukkan kerajaan tersebut.

3.

Maulana Muhammad Nasruddin (1580-1596)

  • Raja ketiga Banten bergelar ‘Pangeran Ratu’ karena mendirikan Pusat Pendidikan beragama Islam di Pakalangan Gede.

  • Raja yang memimpin penyerangan ke Kerajaan Sunda Padjajaran tahun 1579 dan berhasil menaklukkan kerajaan tersebut.

4.

Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir atau dikenal dengan Pangeran Ratu atau Sultan Kenari

(1624-1651)

  • Ada 2 Ukuran Koin, Besar dan Kecil

  • Untuk yg besar ada 2 Variasi, dengan Titik dan Tanpa titik

  • Bahan Perunggu


  • Putra dari Maulana Muhammad sekaligus sebagai Raja Banten ke-4 yang baru resmi bertahta di tahun 1624 meskipun ayahnya telah meninggal di tahun 1596 M.

  • Raja di Pulau Jawa yang pertama kali mendapat gelar ‘Sultan’ dari Syarif (semacam gubernur) Mekkah atas otorisasi Kekhalifahan Utsmaniyah yang berpusat di Turki pada 23 Juni 1636
    ( https://tirto.id/crmp )

5.

Sultan Ageng Tirtayasa / Abu Al Fath Abdul Fatah (1651-1683)


  • Sultan yang mempopulerkan Mata Uang Kesultanan Banten

  • Bergelar Pengeran Dipati, Pangeran Surya serta Pangeran Ratu Ing Banten

  • 2 jenis koin : Timah dan Perunggu

6.

Muhammad Syifa Zainal Arifin (1733-1748)


Millies 115 🡺 1146 H / 1733 M & 116 🡺 1147 H/1734 M 


7.

Muhammad Arif Zainal Asyiqn


Tertera dalam sisi Observe Pichis Banten 1181 H / 1767 M (Millies 117)

Rincian tabel tersebut menunjukkan bahwa bahwa ada lima jenis Koin Banten yang dapat ditelusuri. Kelimanya berasal dari masa pemerintahan sultan yang berbeda, mulai dari pendiri Kesultanan Banten hingga abad ke-18. Setiap masa pemerintahan menghasilkan gaya tulisan, bentuk, dan ciri khas tersendiri, sehingga para peneliti dapat membaca perkembangan politik Banten hanya dari perubahan tampilan koin-koin ini. Sebagian besar koin dibuat dari tembaga, timah, dan perunggu—logam yang mudah ditemukan dan cocok untuk transaksi kecil dalam perdagangan lada. Masyarakat menyebut koin kecil ini sebagai picis, dan istilah itu masih dikenal hingga sekarang. Walaupun bahannya sederhana, setiap koin memuat nama sultan dan simbol keislaman, sehingga berfungsi bukan hanya sebagai alat tukar, tetapi juga sebagai penanda kekuasaan dan identitas budaya Kesultanan Banten.

Perkembangan koin lokal ini juga memperlihatkan perubahan budaya tulis. Pada masa awal kesultanan, koin mengikuti gaya uang Jawa dan Tiongkok. Namun seiring menguatnya identitas Islam di Banten, koin mulai menggunakan aksara Arab Pegon. Ada dua kelompok utama koin Banten:

  1. Koin beraksara Jawa, digunakan pada masa tiga sultan pertama.

  2. Koin beraksara Arab Pegon, dengan bunyi serupa tetapi ditulis menggunakan huruf Arab yang disesuaikan dengan bahasa Jawa-Sunda.

Menurut Kholis (2023), ciri khas Pegon Banten adalah tanpa harakat, tetapi masyarakat setempat terbiasa membacanya sehingga tidak menimbulkan kesulitan. Bahkan ketika pengaruh Belanda semakin kuat, Banten tetap mencetak picis sendiri. Contohnya adalah koin bertahun 1733 M bertuliskan “Picis Banten Sanah 1146”, yang masih ditemukan dalam beberapa varian tahun lainnya. Keberlanjutan ini menunjukkan bahwa tradisi literasi Pegon di Banten sangat kuat dan bertahan lama.


Jejak Dunia dalam Sekeping Koin

Koin-koin Banten bercerita tentang politik, ekonomi, dan hubungan global di masa lalu. Tulisan Arab pada permukaan koin menunjukkan kuatnya identitas Islam di wilayah ini, sejalan dengan peran Banten sebagai pusat ilmu agama dan tujuan para pelajar dari berbagai daerah. Bentuk fisik beberapa koin Banten juga memperlihatkan pengaruh Asia Timur, terutama gaya uang Tiongkok yang bulat pipih. Koin-koin tersebut memang tidak selalu berlubang seperti uang cash coins, namun kemiripan bentuknya menandakan adanya pertukaran teknik pembuatan logam dan kebiasaan niaga melalui jaringan pedagang Tiongkok.

Ciri-ciri tersebut memperlihatkan bahwa Banten merupakan simpul penting dalam jaringan perdagangan internasional, bukan hanya kerajaan pesisir semata. Dalam sepotong koin kecil tampak pertemuan berbagai pengaruh: politik lokal para sultan, tradisi Islam dari Timur Tengah, teknik metalurgi dari Tiongkok, dan kebutuhan pasar Nusantara. Koin-koin ini berpindah dari tangan pedagang, petani, perajin, hingga utusan asing, sambil membawa kisah tentang keterlibatan Banten dalam arus globalisasi awal di Asia Tenggara.

Melalui benda kecil yang muat di telapak tangan, kita dapat melihat cerita besar tentang identitas, perdagangan, dan pertemuan budaya. Koin-koin Banten menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya ditemukan dalam bangunan megah atau naskah panjang, melainkan juga pada artefak sederhana yang pernah digunakan masyarakat sehari-hari.


Penutup

Koin-koin kecil dari Banten penting dipelajari hingga hari ini karena beberapa alasan. Pertama, koin itu menunjukkan bahwa kerajaan-kerajaan Nusantara telah memiliki konsep moneter yang cukup maju dan mandiri sebelum kedatangan bangsa Eropa. Hal ini menantang anggapan bahwa sistem ekonomi dan politik lokal selalu tertinggal.

Kedua, koin Banten adalah simbol identitas. Koin-koin ini mengingatkan bahwa Banten pernah menjadi pusat perdagangan internasional yang kosmopolit, kreatif, dan strategis. Kejayaan tersebut bukan sekadar kisah dalam buku sejarah, tetapi pernah benar-benar terjadi dan meninggalkan bukti nyata.

Ketiga, keberadaan koin Banten menegaskan pentingnya pelestarian warisan budaya. Banyak koin yang kini hilang, berpindah ke pasar antik, atau tersimpan tanpa dokumentasi memadai. Upaya pendataan, penelitian, dan digitalisasi sangat dibutuhkan agar informasi yang terkandung di dalamnya tidak lenyap.

Pada akhirnya, koin timah Banten mengajarkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau monumen besar. Sekeping logam kecil yang berpindah tangan dari pedagang, ibu rumah tangga, pegawai pelabuhan, hingga petani, dapat menjadi medium untuk menanamkan legitimasi dan identitas suatu kerajaan. Di dalamnya tercetak nama Sultan, simbol kekuasaan, keyakinan agama, dan jaringan hubungan internasional yang pernah menghubungkan Banten dengan dunia.



Kepustakaan

Barus, S. (2023, 21 Agustus). Diskusi kelompok terpumpun: Kajian mata uang Kesultanan Banten [Presentasi PowerPoint]. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII, Serang, Banten.

Cortesao, A. (2010). The Suma Oriental of Tomé Pires: An account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512–1515, and The book of Francisco Rodrigues (Nautical Rules, Almanac and Maps, written and drawn before 1515). Hakluyt Society.

Evers, H.-D. (1988). Traditional trading networks of Southeast Asia. Archipel, 35, 89–100.

Guillot, C. (2008). Banten: Sejarah dan peradaban abad X–XVII. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional–École française d’Extrême-Orient.

Gumilar, A. (2025). Khat Arab pada koin kuno Kesultanan Banten. Jurnal Syntax Imperatif: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan,   6(2), 128–139. https://doi.org/10.54543/syntaximperatif.v6i2.676 

Harkantiningsih, N. M. (1986). Pemekaran Kota Banten Lama ditinjau dari data arkeologi. In Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV-IIa (pp. 265–276). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Indraningsih, J. R. (1986). Permukiman prasejarah di sepanjang daerah aliran Sungai Cibanten hilir: Sebuah kajian awal. In Pertemuan Ilmiah Arkeologi IV-IIa (pp. 219–238). Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Juliadi, dkk. (2019). Ragam Pusaka Budaya Banten. (Cet. ke-4). Serang: Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten.

Katison, J. R. (2015). “Symbols are important”: Nation-states and the images on our money. Discourse: The Journal of the SCASD, 2, Article 6. https://openprairie.sdstate.edu/discoursejournal/vol2/iss1/6

Kholis, N. (2023, August 21). Makna sosial budaya mata uang Kesultanan Banten [PowerPoint presentation]. Diskusi Kelompok Terpumpun Kajian Mata Uang Kesultanan Banten, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII.

Lombard, D. (2005). Nusa Jawa: Silang budaya (Jilid 1: Batas-batas pembaratan). Gramedia Pustaka Utama–Forum Jakarta Paris–École française d’Extrême-Orient.

Lombard, D. (2005). Nusa Jawa: Silang budaya (Jilid 2: Jaringan Asia). Gramedia Pustaka Utama–Forum Jakarta Paris–École française d’Extrême-Orient.

Mundardjito, et al. (1986). Berita Penelitian Arkeologi Banten Lama. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Nurhakim, L., & Fadillah, M. A. (1990). Lada: Politik ekonomi Banten di Lampung. In Analisis Hasil Penelitian Arkeologi III: Kajian agrikultur berdasarkan data arkeologi. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Ongkodharma, H. U. (2006). Kebesaran dan Tragedi Kota Banten: Jakarta: Kota Kita.

Ongkodharma, H. U. (2007). Kapitalisme pribumi awal Kesultanan Banten: Kajian arkeologi ekonomi. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Pudjiastuti, T. (2007). Perang, dagang, persahabatan: Surat-surat Sultan Banten. Yayasan Obor Indonesia–The Toyota Foundation.

Reid, A. (1992). Asia Tenggara dalam kurun niaga 1450–1680: Tanah di bawah angin. Yayasan Obor Indonesia.

Sarjiyanto. (2008). Mencermati kembali komoditas lada masa Kesultanan Banten abad ke-16–19. Amerta: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi, 26(1).

Weber, M. (2009). From Max Weber: Essays in Sociology. Routledge.

Wibisono, S. C. (2013). Bina kawasan di negeri bawah angin: Dalam perniagaan Kesultanan Banten abad ke-15–17. Kalpataru, Majalah Arkeologi, 22(2), 61–122.


Senin, 07 Juli 2025

BESKAP


 

Label: